Organisasi yang Ingin Saya Buat Setelah Lulus Kuliah

industri-kreatif2aSebenarnya, saya tak pernah memikirkan bahwa setelah lulus kuliah saya akan membuat organisasi. Tapi jika saya diberi pertanyaan seperti itu, saya akan menjawab bahwa setelah lulus nanti saya akan membuat organisasi yang bergerak dalam bidang industri kreatif. Industri kreatif disini adalah aktivitas-aktivitas yang membutuhkan kreativitas yang nanti karyanya dapat menghasilkan keuntungan contohnya seperti, membuat film, musik, komik, desain grafis, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Tujuan saya dari membuat organisasi ini adalah untuk mendorong Indonesia, terutama generasi muda, untuk semakin kreatif dalam membuat karya. Anggota organisasi ini adalah orang-orang ahli dalam bidang industri kreatif yang mau saling berbagi ilmu terutama kepada anak-anak.

Organisasi ini nantinya akan datang ke sekolah-sekolah atau panti asuhan untuk mensosialisasikan industri kreatif dan melihat potensi-potensi yang ada pada anak-anak. Ini dimaksudkan untuk mengembangkan ide-ide anak, karena umur anak-anak sampai remaja adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan bakat. Mungkin dalam jangka waktu setahun sekali, organisasi ini akan mengadakan lomba untuk menyalurkan bakat mereka dalam bidang-bidang tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan PMI

Dilihat dari bentuk organisasi PMI itu sendiri (Organisasi lini dan staff), kelebihan dan kekurangan PMI adalah sebagai berikut:

Kelebihan:

  1. Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas pokok organisasi dan kelompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.
  2. Asas spesialisasi yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-masing.
  3. Prinsip “the right man on the right place” dapat diterapkan dengan mudah.
  4. Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah.
  5. Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.

Kekurangan

  1. Struktur organisasinya sangat rumit, adanya kemungkinan pimpinan staf melampaui batas kewenangannya.
  2. Pimpinan lini sering mengabaikan nasehat atau saran dari staf.
  3. Pimpinan staf sering mengabaikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pimpinan lini.
  4. Perintah lini dan perintah staf sering membingungkan anggota organisasi karena kedua jenis hirarki sering tidak seirama dalam memandang sesuatu.

Berdasarkan analisis faktor internal, kelebihan dan kekurangan PMI adalah sebagai berikut:

Kelebihan (strength)

  1. PMI masih diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya Organisasi Kepalangmerahan di Indonesia berdasarkan Keppres No. 25 Tahun 1950 serta Kep. Pres No. 246/1963 tentang posisi PMI yang bekerja melaksanakan tugas atas nama pemerintah dan harus bertanggungjawab kepada pemerintah dengan tetap berprinsip kepada kemandirian PMI. Hal ini menunjukkan bahwa PMI masih tetap eksis dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat.
  2. PMI telah memiliki jaringan kerja hingga hampir menyeluruh di wilayah tanah air.  Dari catatan yang ada, saat ini terdapat  Pengurus Pusat (13 orang pengurus), 30 PMI Daerah (380 orang Pengurus), 361 PMI Cabang (4.602 orang Pengurus) dan 2.200 PMI Ranting (dari 197 PMI Cabang) di seluruh Indonesia.
  3. PMI memiliki hampir 1 juta sukarelawan yang telah mendapat latihan keterampilan di bidang Kepalangmerahan dan siap menjalankan tugasnya untuk membantu anggota masyarakat yang membutuhkan.  Dari catatan yang ada, PMI memiliki  anggota KSR sebanyak 27.987 orang (dari 161 PMI Cabang), Tenaga Sukarela 22.362 orang (dari 132 PMI Cabang) dan Palang Merah Remaja 713.093 orang (dari 176 PMI Cabang).
  4. PMI memiliki jaringan kerja nasional dan Internasional, baik yang terkait dengan tugas-tugas kepalangmerahan di Indonesia maupun international network dengan IFRC/ICRC/ dan International NGO (WFP, UN-OCHA, UNHCR, UNDP dll) yang cukup baik;

Kelemahan (Weaknesses)

  1. Kapasitas PMI secara keseluruhan masih jauh dari rata-rata standart performans kapasitas. Berdasarkan data penilaian Kapasitas PMI per Juli 2004, baru 17% PMI Daerah yang berkuali-fikasi baik, 10% Cukup dan 73% Kurang. Sedangkan untuk PMI Cabang yang berkualifikasi baik baru 30%, Cukup 12%, Kurang 15% dan sisanya 43% belum teridentifikasi.  Belum semua PD/PC memiliki markas atau kantor PMI. Sementara itu, diantara yang sudah memiliki kantor, masih banyak yang belum memenuhi persyaratan standart sebagai markas atau  kantor. Disamping sarana perkantoran yang masih minimal, ketersediaan sarana kendaraan operasional maupun media komunikasi / pelatihan juga masih sangat terbatas.  Pembinaan organisasi secara berjenjang, juga belum dapat dilaksanakan secara optimal.
  2. Buku panduan, pedoman, dan SOP  yang ada masih belum sesuai dengan kebutuhan. Hal ini mengakibatkan belum adanya kesamaan persepsi, pemahaman dan langkah yang sama dalam menjalankan kegiatan-kegiatan rutin operasional.
  3. Belum memadainya  jumlah Sumber Daya Manusia yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang diharapkan. Sementara itu, kapasitas, kualitas, kompetensi  dan komitmen Pengurus umumnya masih rendah. Hal ini menyebabkan kegiatan PMI kurang dapat berjalan dengan baik dan kalah bersaing dengan kegiatan LSM lain yang lebih profesional.
  4. Kegiatan pelatihan di jajaran Pengurus, Staff, maupun relawan (KSR/PMR/TSR) masih belum terstandarisasi dan belum berbasis pada kompetensi. Jumlah Drop-out anggota KSR-TSR dan PMR dirasakan masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan belum adanya pembinaan relawan yang komprehensif dan sustainable. Lemahnya monitoring dan evaluasi maupun pembinaan paska pelatihan dan mobilisasi relawan untuk tugas-tugas pelayanan menjadi pemicu berkurangnya jumlah sumber daya manusia.
  5. Belum adanya kejelasan kerangka keanggotaan maupun kejelasan peran dan fungsi masing-masing,  seperti KSR, TSR, PMR, Satgana, Tim Khusus, Staff dan Pengurus. Sedangkan data base keanggotaan juga belum ter-  up date  dengan baik, karena masih rendahnya jumlah daerah / cabang yang melaporkan data base-nya secara rutin ke Kantor Pusat.
  6. Pelayanan PMI baik  Penanggulangan Bencana, Pelayanan Kesehatan dan sosial maupun Upaya Kesehatan Transfusi Darah walaupun sudah diupayakan memenuhi standart pelayanan prima, namun belum menjangkau keseluruhan masyarakat yang rentan. Hal ini disebabkan keterbatasan dana, kapasitas dan jumlah sumber daya manusia yang dimiliki.
  7. Sebagian besar pendanaan PMI Daerah dan Cabang masih sangat tergantung pada subsidi pemerintah daerah serta bulan dana. Sementara itu pengumpulan dana melalui bulan dana, hasilnya kurang maksimal, karena sistem manajemen pengumpulannya kurang efektif dan kurang ditunjang dengan perangkat sosialisasi / marketing yang memadai;

Bentuk Organisasi

Struktur Organisasi

Kelebihan & Kekurangan Organisasi

Sumber:

https://www.scribd.com/doc/52887480/BAB-I-II-III

https://palmersda.wordpress.com/2010/08/14/analisis-lingkungan-internal/

Struktur Organisasi PMI

Seperti yang dapat kita lihat dari bagan yang ada di post Bentuk Organisasi, struktur organisasi PMI sangatlah besar karena PMI tersebar di seluruh Indonesia. Maka dari itu, saya memakai struktur organisasi umumnya dengan contoh struktur organisasi dari PMI DKI Jakarta.

BentukBerdasarkan anggaran dasar PMI Bab IV Pasal 12, pelindung terbagi menjadi 4 sesuai dengan tingkatan PMI.

  1. Presiden Republik Indonesia adalah pelindung PMI.
  2. Gubernur adalah pelindung PMI di provinsi.
  3. Bupati/walikota adalah pelindung PMI di kabupaten/kota.
  4. Camat adalah pelindung PMI di kecamatan.

Pengurus daerah mempunyai struktur organisasi tersendiri. Dibawah ini adalah struktur organisasi untuk daerah DKI Jakarta

struktur 1

Dari kepengurusan provinsi, strukturnya dibagi lagi. SPI adalah Satuan Pengawas Internal yang bertugas untuk mengawasi kinerja organisasi. UDD adalah Unit Donor Darah yang mengurusi bagian donor darah di tingkat provinsi. UDD mempunyai Subunit yang mengurusi di bagian kota. Setiap unit diatas mempunyai struktur tersendiri. Berikut adalah struktur organisasi dari markas provinsi:

Markas

Organisasi Palang Merah Indonesia

Bentuk Organisasi

Kelebihan & Kekurangan Organisasi

Sumber:

https://www.scribd.com/doc/52887480/BAB-I-II-III

http://www.academia.edu/7975062/ANGGARAN_DASAR_DAN_ANGGARAN_RUMAH_TANGGA_PALANG_MERAH_INDONESIA_Hasil_MUNAS_PMI_XIX_PEMBUKAAN

http://pmidkijakarta.or.id/profile/PMI%20SO.pdf

Bentuk Organisasi Palang Merah Indonesia

BentukOrganisasi PMI ini termasuk ke dalam organisasi lini dan staf, karena:

  1. Jumlah anggota banyak
  2. Daerah kerjanya luas yaitu berbagai daerah di wilayah Indonesia.
  3. Pimpinan dan sesama anggota tidak saling mengenal karena anggota nya terlalu banyak
  4. Hubungan kerja yang tidak mungkin bersifat langsung karena ada proses yang panjang untuk menginstruksikan suatu rencana kerja tertentu

Apakah yang dimaksud dengan Organisasi Lini dan Staff ?
Organisasi Lini dan Staff merupakan perpaduan antara struktur organisasi garis dengan struktur organisasi fungsional dengan bantuan staff.

  1. Anggota staff ialah anggota yang memiliki hak untuk memberikan bahan-bahan pertimbangan atau nasehat kepada pimpinan
  2. Anggota lini ialah anggota organisasi yang memiliki hak perintah kepada bawahan-bawahannya di dalam jalur ini.

Ciri-ciri organisasi lini dan staf adalah:

  1. Pucuk pimpinannya hanya satu orang dan dibantu oleh para staf.
  2. Terdapat dua kelompok wewenang, yaitu wewenang lini dan wewenang staf.
  3. Kesatuan perintah tetap dipertahankan, setiap atasan mempunyai bawahan tertentu dan setiap bawahan hanya mempunyai seorang atasan langsung.
  4. Organisasinya besar, karyawannya banyak dan pekerjaannya bersifat kompleks.
  5. Hubungan antara atasan dengan para bawahan tidak bersifat langsung.
  6. Pimpinan dan para karyawan tidak semuanya saling kenal-mengenal.
  7. Spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan digunakan secara optimal.

Organisasi Palang Merah Indonesia

Struktur Organisasi

Kelebihan & Kekurangan Organisasi

Sumber: https://www.scribd.com/doc/52887480/BAB-I-II-III

Organisasi Sosial: Palang Merah Indonesia

PMI

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh indonesia.

Sejarah

Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkei pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah. Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat.

Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Dibantu Panitia lima orang terdiri atas Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, mempersiapkan terbentuknya Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.

Visi

PMI yang berkarakter, profesional, mandiri dan dicintai masyarakat

Misi

  1. Menjadi organisasi kemanusiaan terdepan yang memberikan layanan berkualitas melalui kerja sama dengan masyarakat dan mitra sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
  2. Meningkatkan kemandirian organisasi PMI melalui kemitraan strategis yang berkesinambungan dengan pemerintah, swasta, mitra gerakan dan pemangku kepentingan lainnya di semua tingkatan.
  3. Meningkatkan reputasi organisasi PMI di tingkat Nasional dan Internasional.

Tujuan

Tujuan PMI adalah untuk meringankan penderitaan sesama manusia apapun sebabnya, dengan tidak membedakan golongan, bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Keanggotaan

Menurut ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMI yang disebut Anggota Palang Merah Indonesia (PMI) adalah setiap Warga Negara Indonesia yang bersedia menjadi anggota PMI. Mereka terdiri dari:

  • Anggota Remaja, usia 10 – 20 tahun yang dihimpun di dalam wadah Palang Merah Remaja (PMR).
  • Anggota Biasa, usia 20 tahun ke-atas dan dapat menjadi anggota Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR).
  • Anggota Luar Biasa, adalah warga negara bukan Indonesia (WNA) yang berjasa kepada PMI).
  • Anggota Kehormatan, adalah Warga Negara Indonesia yang diangkat dengan Surat Keputusan Pengurus Pusat berdasarkan jasa-jasanya kepada PMI.

Kegiatan PMI

  • Pertolongan Pertama pada kasus trauma dan medis bersifat sementara sebelum dikirim ke Rumah Sakit. Dan Pertolongan Pertama berbasis Masyarakat (CBFA).
  • Perawatan Keluarga, yang merupakan perawatan ringan dan rutin sehari-hari seperti memandikan bayi, merawat manula dll.
  • Mendirikan Perkampungan Darurat dilokasi yang aman dengan mendirikan tenda atau menempati rumah yang kosong guna menampung para pengungsi/korban.
  • Menanggani proses pengungsian dari tempat kejadian ke tempat yang aman yaitu perkampungan darurat, baik korban yang sehat, sakit sampai korban yang meninggal.
  • Mendirikan Dapur Umum dalam memberikan layanan kebutuhan makan para korban dengan 2 kali makan sehari selama minimal 2 minggu dan maximal 3 bulan.
  • Selanjutnya dengan dibina PMI dilaksanakan Dapur Umum secara bersama-sama.
  • Melayani pencarian keluarga yang hilang atau putus komunikasi, baik komunikasi keluar tempat kejadian maupun yang masuk ke tempat kejadiaan yang lebih singkatnya disebut layanan TMS ( Tracing and Mailing Service).
  • Mengadakan konseling.
  • Pelayanan donor darah dan permintaan darah melalui unit Transfusi darah PMI.
  • Memberikan penyuluhan dalam bidang:
    • Pendidikan Remaja Sebaya (PRS)
    • Keterampilan Hidup (Life Skill)
    • Penanggulangan HIV/ AIDS
    • Sanitasi ( PHAST) dan CBFA

Bentuk Organisasi

Struktur Organisasi

Kelebihan & Kekurangan Organisasi

Sumber: https://www.scribd.com/doc/52887480/BAB-I-II-III