Inovasi

Ini adalah video inovasi oleh kelompok kami yang anggotanya terdiri dari:

  • Anggun Putri Kholifah Agung
  • Dea Ludiastami
  • Evania Shabrina
  • Lhusya Afrilia
  • Meisa Puji Lestari

Bahan-bahannya:

  • Oreo
  • Cream Cheese 250 gram
  • Susu Kental Manis
  • Topping tambahan lainnya sesuai selera

Cara pembuatannya:

  1. Hancurkan oreo (bisa menggunakan food processor)
  2. Campurkan cream cheese dengan susu kental manis, lalu aduk hingga merata menggunakan mixer
  3. Campurkan adonan cream cheese dengan sebagian oreo yang sudah di hancurkan
  4. Masukkan oreo yang sudah dihancurkan ke dalam gelas sebagai alas untuk creamcheese
  5. Tuang adonan creamcheese-nya
  6. Berikan topping seperti remah-remah oreo atau strawberry

Kreativitas

Kali ini saya akan mengulas hal yang menurut saya kreatif (tetapi masih dalam tahap pengembangan) dalam diri saya. Yaitu membuat komikstrip. Jadi, sejak saya kecil saya suka menggambar. Tapi saya tidak suka mewarnai. Saat duduk dibangku SD, teman-teman saya yang suka komik mengajak banyak orang untuk membuat komik kolaborasi. Saya tertarik untuk ikut tetapi saya merasa minder karena gambar mereka terlihat lebih realistis dan manga-istis dibandingkan gambar saya yang pada saat itu hanya bisa menggambar tokoh-tokoh kartun seperti spongebob, snap, dan timmy turner. Jadi saya hanya membuat draf OC (Original Character) saja. Hingga saat saya duduk di bangku SMP, saya melihat komikstrip yang membuat saya tertarik untuk membuat komik. Akhirnya rilislah komikstrip pertama saya di facebook saya yang kini sudah tiada. Dengan tokoh utama yang tak punya nama tapi ceritanya asli pengalaman saya sendiri.

Foto Terburuk

Komikstrip ini saya buat manual dengan stylus yang ada di laptop touchscreen saya dulu (sekarang juga sudah tiada), dengan bermodalkan aplikasi photoshop. Karena rilisnya di facebook, otomatis teman-teman saya banyak yang melihat komikstrip yang saya buat tadi dan mereka ingin dimuat ke dalam komikstrip saya. Karena saya bingung untuk membuat tokoh lain yang menggambarkan mereka, akhirnya saya menggambar mereka (tentunya dengan model yang agak cartoony).

Met ultah! FC

Komikstrip ini awalnya saya buat di kertas, dipertebal, lalu saya foto perpanelnya. Saya dulu tidak punya scanner, dan HP saat itu cukup bagus untuk memotret halaman hitam-putih jadi saya foto saja. Setelah itu, dengan hasil foto tersebut saya pertebal kembali dengan adobe photoshop di komputer lalu diberi warna. Untuk balon bicaranya, saya menggunakan program lain yang bernama comic life. Lalu beberapa bulan kemudian, saya mengenal program gambar berbasis vektor yang bernama inkscape. Saat menggambar dengan inkscape, saya menjadi lebih malas dari sebelumnya karena membutuhkan tenaga mengklik mouse yang besar. Berikut ini yang digambar dengan inkscape.

Study Tour 2

Semakin kesini, saya semakin jarang membuat komik padahal saya sudah dibelikan pentablet. Diakibatkan saya terlalu serius dengan masa-masa SMA, tapi saya masih sering menggambar untuk ucapan ulang tahun kepada teman saya dan mencoba style-style menggambar dan mewarnai yang baru. Nah dibawah ini adalah tahapan dan bahan (?) untuk membuat komik versi saya.

Bahan:

Seperangkat komputer, program gambar (sai paint tool – adobe photoshop), pen tablet

Tahapan:

  1. Untuk membuat komik, cerita adalah hal yang penting. Tidak semua cerita bisa dibuat komik, terutama komikstrip. Terlalu detil bisa membuat komik terlalu bertele-tele dan terlalu singkat bisa jadi nggak nyambung (Seperti yang saya buat saat SMP, banyak yang nggak nyambung). Kalo rajin sih, bisa dibuat storyboardnya terlebih dahulu. Di panel 1 dia ngapain ngapain.
  2. Setelah cerita sudah rampung, saatnya membuat sketsa untuk setiap panel. Untuk membuat sketsa saya menggunakan program sai paint tool. Biasanya saya menggunakan warna biru agar nanti pas menebalkan saya nggak bingung-bingung. Untuk komik manual, bisa menggunakan pensil yang tipis seperti HB atau H kebawah
    tou kre1
  3. Mempertebal garis-garis sketsa. Untuk outline, normalnya sih menggunakan warna hitam.
  4. Mewarnai. Ini adalah hal yang menyenangkan ketika membuat komik di komputer. Dulu saya tidak suka mewarnai, sampai sekarang pun juga gitu tapi dengan komputer, mewarnai hanya sekedar mengklik selection tool-daerah yang ingin diwarnai-bucket tool-warna yang diinginkan-daerah yang ingin diwarnai, selesai deh mewarnai (ala saya).
    tou kre4
  5. Memberi bayangan (Shading). Untuk yang ini, saya biasanya asal, tetapi saya lebih sering memberi bayangan di belakang tokoh atau bendanya karena komikstrip saya biasanya menghadap depan. Dulu saya tidak memakai langkah ini karena saya tidak mengerti. Saya lebih sering memberi bayangan di program photoshop karena saya saat ini masih belum handal menggunakan sai paint tool. Bahkan di komik ini saya membuat shading di program sai paint tool hanya panel 1 saja, sisanya menggunakan photoshop. Bisa dilihat perbedaannya nanti.
    tou kre5
  6. Memberi dialog. Tentukan dialog seperti apa yang diinginkan, jangan terlalu panjang sampai menutupi panel (kecuali memang disengaja). Biasanya untuk tulisan di komik, menggunakan huruf kapital. Karena di sai paint tool tidak bisa membuat teks, maka saya buat teksnnya di photoshop. Untuk background saya menggunakan brush, karena saya sendiri memang kurang mahir membuat background. Bisa saja sih copy-paste gambar dari internet cuma saya saat membuat komik ini nggak kepikiran.
    tou kre7

Jadi deh komik super duper sederhananya:

spesial TOU

Sekian ulasan saya tentang kreativitas saya sendiri, mohon maaf saya tidak menyertakan video timelapse seperti orang-orang karena saya membuat komik ini disela-sela ujian, jadi saya membuat komiknya 1 panel 1 hari itu juga ketika saya sempat membuka laptop saya. Jadi, sekali lagi… maaf.

Tipologi Budaya

Ada beberapa tipologi budaya organisasi. Kotter dan Heskett (1998) mengkategorisasi jenis budaya organisasi menjadi tiga yaitu budaya kuat dan budaya lemah; budaya yang memiliki kecocokan strategik; dan budaya adaptif. Organisasi yang berbudaya kuat biasanya dapat dilihat oleh orang luar sebagai memilih suatu gaya tertentu. Dalam budaya organisasi yang kuat ini nilai-nilai yang dianut bersama itu dikonstruksi ke dalam semacam pernyataan misi dan secara serius mendorong para manajer untuk mengikutinya. Karena akar-akarnya sudah mendalam, gaya dan nilai budaya yang kuat cenderung tidak banyak berubah walaupun ada pergantian pimpinan.

Sejalan dengan itu, Robbins (1990) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan budaya yang kuat adalah budaya di mana nilai-nilai inti dipegang secara intensif dan dianut bersama secara meluas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu, maka makin kuat pula budaya tersebut. Sebaliknya organisasi yang berbudaya lemah, nilai-nilai yang dianut tidak begitu kuat sehingga jatidiri organisasi tidak begitu menonjol dan kemungkinan besar nilai-nilai yang dianut pun berubah setiap pergantian pimpinan atau sesuai dengan kebijakan pimpinan yang baru.

Jenis budaya yang cocok secara strategik memiliki perspektif yang menegaskan tidak ada resep umum untuk menyatakan seperti apa hakikat budaya yang baik itu, hanya apabila “cocok” dengan konteksnya. Konteks itu dapat berupa kondisi objektif dari organisasinya, segmen usahanya yang dispesifikasi oleh strategi organisasi atau strategi bisnisnya sendiri. Konsep kecocokan sangat bermanfaat khususnya dalam menjelaskan perbedaanperbedaan kinerja jangka pendek dan menengah. Esensi konsepnya mengatakan bahwa suatu budaya yang seragam tidak akan berfungsi. Oleh karena itu, beberapa variasi dibutuhkan untuk mencocokan tuntutan-tuntutan spesifik dari bisnis-bisnis yang berbeda itu.

Budaya adaptif didasari pemikiran bahwa organisasi merupakan sistem terbuka dan dinamis yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Untuk dapat meraih sukses dalam lingkungan yang senantiasa berubah, organisasi harus tanggap terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dapat membaca kecenderungan-kecenderungan penting dan melakukan penyesuaian secara cepat. Budaya organisasi adaptif memungkinkan organisasi mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi tanpa harus berbenturan dengan perubahan itu sendiri.

Selanjutnya, Luthans (1992) memaparkan karakteristik budaya organisasi sebagai berikut:

  1. Peraturan-peraturan perilaku yang harus dipenuhi
  2. Norma-norma
  3. Nilai-nilai yang dominan
  4. Filosofi
  5. Aturan-aturan
  6. Iklim organisasi.

Semua karakteristik budaya organisasi tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, dalam arti bahwa unsur-unsur tersebut mencerminkan budaya yang berlaku dalam suatu jenis organisasi, baik yang berorientasi pada pelayanan jasa maupun organisasi yang menghasilkan produk barang.

Robbins (1990) mengemukakan 10 karakteristik budaya organisasi, yaitu:

  1. Inisiatif individu
  2. Toleransi terhadap risiko
  3. Pengarahan
  4. Integrasi
  5. Dukungan manajemen
  6. Pengawasan
  7. Identitas
  8. Sistem penghargaan
  9. Toleransi terhadap konflik
  10. Pola komunikasi.

Inisiatif individual adalah seberapa jauh inisiatif seseorang dikehendaki dalam perusahaan. Hal ini meliputi tanggung jawab, kebebasan dan independensi dari masing-masing anggota organisasi, dalam artian seberapa besar seseorang diberi wewenang dalam melaksanakan tugasnya, seberapa berat tanggung jawab yang harus dipikul sesuai dengan kewenangannya dan seberapa luas kebebasan mengambil keputusan.

Toleransi terhadap risiko, menggambarkan seberapa jauh sumber daya manusia didorong untuk lebih agresif, inovatif dan mau menghadapi risiko dalam pekerjaannya. Pengarahan, hal ini berkenaan dengan kejelasan sebuah organisasi dalam menentukan objek dan harapan terhadap sumber daya manusia terhadap hasil kerjanya. Harapan tersebut dapat dituangkan dalam bentuk kuantitas, kualitas dan waktu.

Integrasi adalah seberapa jauh keterkaitan dan kerja sama yang ditekankan dalam melaksanakan tugas dari masing-masing unit di dalam suatu organisasi dengan koordinasi yang baik. Dukungan manajemen, dalam hal ini seberapa jauh para manajer memberikan komunikasi yang jelas, bantuan, dan dukungan terhadap bawahannya dalam melaksanakan tugasnya.

Pengawasan, meliputi peraturan-peraturan dan supervisi langsung yang digunakan untuk melihat secara keseluruhan dari perilaku karyawan. Identitas, menggambarkan pemahaman anggota organisasi yang loyal kepada organisasi secara penuh dan seberapa jauh loyalitas karyawan tersebut terhadap organisasi.

Sistem penghargaan pun akan dilihat dalam budaya organisasi, dalam arti pengalokasian “reward” (kenaikan gaji, promosi) berdasarkan kriteria hasil kerja karyawan yang telah ditentukan. Toleransi terhadap konflik, menggambarkan sejauhmana usaha untuk mendorong karyawan agar bersikap kritis terhadap konflik yang terjadi. Karakteristik yang terakhir adalah pola komunikasi, yang terbatas pada hierarki formal dari setiap perusahaan.

Sumber:

http://www.psychologymania.com/2013/01/tipologi-budaya-organisasi.html

Perubahan & Pengembangan Organisasi

DEFINISI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perkembangan adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata berkembang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, kata “berkembang” tidak saja meliputi aspek yang berarti abstrak seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkret. Secara singkat, perkembangan adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju.

Menurut Neni  Nurmayanti  Husanah, Perubahan  merupakan  sesuatu  yang  unik  karena  perubahan – perubahan yang terjadi  dalam  berbagai  kehidupan  itu  berbeda – beda  dan  tidak  bisa disamakan, walaupun  memmiliki  beberapa  persamaan  dalam  prosesnya. Sedangkan menurut Brian  Clegg, Perubahan  merupakan  suatu  kekuatan  yang  sangat  hebat,  yang  dapat memotivasi.

Menurut Stoner organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama. Menurut James D. Mooney organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, Perkembangan dan Perubahan Organisasi adalah suatu proses membesar atau meluasnya sebuah organisasi ke arah yang lebih baik.

LANGKAH PERUBAHAN

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan berasal dari dalam maupun dari luar organisasi.

Faktor internal:

  • Perubahan kebijakan pimpinan
  • Perubahan tujuan
  • Perluasan wilayah operasi tujuan
  • Volume kegiatan bertambah banyak
  • Sikap & perilaku dari para anggota organinsasi.

Faktor eksternal:

  • Politik
  • Hukum
  • Kebudayaan
  • Teknologi
  • Sumber Daya Alam
  • Demografi
  • Sosiologi

Proses perubahan yaitu:

  • Mengadakan pengkajian : tidak dapat dipungkiri bahwa setiap organisasi apapun tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh daripada perubahan yang terjadi di luar organisasi itu mencakup berbagai bidang antara lain: politik, ekonomi, teknologi, hokum, social budaya dan sebagainya.
  • Mengadakan identifikasi : yang perlu di identifikasi adalah dampak perubahan perubahan yang terjadi dalam organisasi . setiap factor yang menyebabkan terjadinya perubahan organisasi harus diteliti secara cermat sehingga jelas permasalahannya dan dapat dipecahkan dengan tepat.
  • Menetapkan perubahan : sebelum langkah langkah perubahan diambil , pimpinan organisasi harus yakin terlebih dahulu bahwa perubahan memang harus dilakukan, baik dalam rangka meningkatkan kemampuan organisasi maupun dalam rangka mempertahankan eksistensi serta pengembangan dan pertumbuhan organisasi selanjutnya.
  • Menentukan strategi  : apabila pimpinan organisasi yakin bahwa perubahan benar-benar harus dilakukan maka pemimpin orgganisasi harus segera menyusun strategi untuk mewujudkannya.
  • Melakukan evaluasi : untuk mengetahui apakah hasil dari perubahan itu bersifat positif atau negative , perlu dilakukan penilaian. Apabila hasil perubahan sesuai dengan harapan berarti berpengaruh positif terhadap organisasi dan apabila sebaliknya berarti negative.

PERENCANAAN STRATEGI ORGANISASI

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Perencanaan Strategi dan Pengembangan Organisasi:

  1. Pengamatan eksternal

Yaitu dengan memperhatikan kesempatan dan ancaman di segala aspek, baik ekonomi, politik, teknologi, budaya dan lainnya yang semua variable itu akan membentuk karakter organisasi. Metode ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Wayne E. Rosing, wakil Direktur pengembangan Sun Microsystems, Inc ” Tidak ada satupun yang memotivasi Sun kecuali ketakutan akan apa yang dilakukan oleh pesaing ”.

  1. Pengamatan internal

Terdiri dari eavaluasi SDM dan struktur organisasi, dengan tujuan mengukur kesiapan SDM (inputs) strategi sekarang (proses), kinerja (outputs) dan potensi dalam yang akan membentuk kedinamisan organisasi. Dalam internal terdapat dua variable yang penting, yaitu, Struktur dan Budaya. Struktur berkenaan dengan mekanisme, prosedural organisasi. Budaya adalah yang berkenaan dengan pola keyakinan dan pemikiran, aspirasi dan nilai-nilai yang diharapkan oleh semua anggota organisasi.

  1. Perumusan organisasi.

Adalah pengembangan planing jangka panjang, dari menejemen yang efektif dari kesempatan dan ancaman yang disinergiskan dengan kondisi internal.

  1. Misi

Misi Organisasi adalah tujuan atau alasan mengapa organisasi ada dan mempertegas keberadaan organisasi. Konsep misi yang disusun dengan sistemik dan general itu akan menjadikan ciri khas organisasi dengan organisasi yang lain, dan berperan terhadap uniknya nilai produk organisasi yang ditawarkan. Konsepsi misi yang apik juga dapat meminimalisir konflik internal yang dianggap kurang prinsip dan membantu meningkatkan intensitas diskusi dan kajian secara produktiv.

  1. Tujuan

Merupakan hasil akhir aktivitas perencanaan, dengan merumuskan apa dan kapan yang akan diselasaikan dengan mengukur sasaran.

  1. Strategi

merupakan konsep perencanaan komprehensif tentang bagiamana organisasi dapat mencapai misi dan tujuan.

  1. Kebijakan

Yaitu  pedoman luas yang menghubungkan strategi dan implementasi. Kebijakan ini bersifat general yang nantinya akan diikuti dan disepesifikan dan di interpretasikan dan di implementasikan oleh devisi-devisi melalui strategi dan tujuan devisi masing-masing.

  1. Implementasi strategi

Proses dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur.

  1. Program

Pernyataan aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan perencanaan sekali pakai.

  1. Anggaran

Program yang dinyatakan dalam satuan uang, setiap program akan dinyatakan secara rinci dalam biaya, yang dapat digunakan oleh SDM untuk mengelola organisasi.

  1. Prosedur

Sering juga disebut dengan standard operating proscedurs, yaitu langkah-langkah yang berurutan yang menggambarkan dengan rinci bagaimana suatu tugas atau pekerjaan diselesaikan.

  1. Evaluasi dan Pengendalian

Adalah proses yang melalui aktivitas-aktivitas dan hasil kerja dimonitor dan kinerja nyata dengan kinerja/program yang diinginkan.

Sumber:

https://ismaan.wordpress.com/2015/05/19/perkembangan-dan-perubahan-organisasi/

https://2695things.wordpress.com/tag/perencanaan-strategis-pengembangan-organisasi/

http://lista.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/22305/P+12+perubahan-pengembangan-organisasi.pdf